Serial Adolescence yang tayang pada 2025 membuka mata banyak orang tentang bahaya ideologi incel. Komunitas ini tidak sekadar berisi keluhan pria yang kesepian, tetapi telah berkembang menjadi gerakan yang membenci perempuan dan bahkan memicu tindak kekerasan.

Laporan menunjukkan bahwa incel adalah kelompok daring yang meyakini perempuan sebagai sumber masalah mereka. Mereka merasa ditolak karena tidak cukup tampan, kaya, atau berotot. Puncaknya, pada 2014, Elliot Rodger membunuh enam orang sebelum mengakhiri hidupnya, dan setahun kemudian Alek Minassian menewaskan sepuluh orang di Toronto. Keduanya mengaku terinspirasi oleh ideologi incel.

Yang mengkhawatirkan, internalisasi paham ini sering terjadi tanpa disadari pada anak lelaki melalui konten yang mereka konsumsi di media sosial. Lalu, bagaimana cara mencegahnya? Dalam sebuah diskusi bertajuk "NGOPI: Parenting di Tengah Gempuran Komunitas Incel", dua orang tua berbagi pengalaman mereka.

1. Hapus Bias Gender Sejak Dini

Norma maskulinitas yang kaku menjadi pintu masuk bagi incel untuk memengaruhi anak lelaki. Anak diajarkan bahwa lelaki harus tangguh, tidak boleh menangis, dan dominan. Padahal, norma seperti ini justru menghambat mereka mencari bantuan saat menghadapi masalah emosional.

Tua Maratua, seorang ayah, mematahkan norma tersebut dengan membiarkan anaknya bermain boneka. "Anak saya sangat suka mengoleksi boneka beruang. Selama itu positif, mengapa tidak? Bermain boneka bisa melatih regulasi emosi dan motorik," ujarnya.

Raya, seorang ibu tunggal, juga tidak melarang anaknya memakai baju warna pink jika anaknya nyaman. "Saya tidak pernah melarang dia memilih baju pink karena menurutnya bagus. Yang penting dia nyaman," tuturnya.

2. Tanamkan Nilai Kesetaraan

Kelompok incel percaya bahwa perempuan harus dikendalikan oleh lelaki. Untuk menangkalnya, Tua dan istrinya membagi tugas rumah tangga secara setara. "Ketika kami sama-sama bekerja, pulangnya kami bagi tugas. Saya temani anak mengerjakan PR, lalu saya masak dan mencuci. Jadi tidak ada pekerjaan yang hanya milik istri," jelasnya.

Raya menambahkan bahwa anak adalah peniru ulung. "Di meja makan, kami biasakan mengambil keputusan dengan mendengarkan pendapat ibu. Anak melihat bahwa pendapat perempuan dihargai," ujarnya.

3. Bangun Komunikasi Terbuka

Anak lelaki sering kali merasa tidak nyaman bercerita tentang perasaannya karena takut dianggap lemah. Ciptakan ruang aman di rumah agar mereka bisa mengungkapkan frustrasi tanpa dihakimi. Dengarkan tanpa menghakimi, dan hindari meremehkan perasaannya.

4. Awasi Konsumsi Media Sosial

Algoritma media sosial bisa menjerumuskan anak ke konten-konten yang penuh kebencian. Pantau aktivitas daring mereka, dan ajak diskusi kritis tentang konten yang mereka lihat. Berikan pemahaman bahwa tidak semua yang ada di internet itu benar.

5. Jadilah Teladan

Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Tunjukkan sikap menghormati perempuan dalam kehidupan sehari-hari, baik kepada pasangan, saudara, maupun teman. Dengan begitu, anak akan tumbuh dengan pemahaman bahwa kesetaraan gender adalah hal yang wajar.

Reporter: Maya Handayani